Oleh: Pran Nevile
Wanita Punjab selalu dianggap sebagai salah seorang wanita tercantik di India. Kita mengenal Anarkali yang menjadi legenda karena Pangeran Salim tergila-gila dengan kecantikan dan keanggunannya. Pada periode terakhir kerajaan Mughal, tersebutlah seorang perempuan jelita bernama Lal Kunwar, yang kecantikan dan daya pikatnya menjadi bagian folklore. Petualangan cintanya dengan Kaisar Jahandar Shah, cucu Aurangzeb, telah mengangkat statusnya menjadi seorang Ratu dengan gelar Imtiaz Mahal dan kemudian dia dikenal sebagai “Singing Empress” atau Ratu Nyanyi. Semasa kekuasaan Sikh ada seorang Muslimah yang cantik dan masih muda bernama Moran yang memikat ‘Singa Punjab’ — Maharaja Ranjit Singh. Lalu kita mengenal Maharani jind Kaur, isteri termuda Maharaja, yang terkenal dengan pandangan matanya yang menarik dan kepribadiannya yang ingin berkuasa. Lukisan-lukisan potretnya yang masih utuh sampai sekarang merupakan bukti keayuannya. Menurut Sir Herbert Edwardes, “dia lebih cerdik dan berani dari pria mana pun di kerajaannya”.
Punjab jatuh kebawah kekuasaan Inggris pada tahun 1849. Pada masa itu jurang rasial antara yang memerintah dan yang diperintah sudah tercipta dengan kokoh. Jika sampai dasawarsa-dasarwarsa pertama abad ke- 19, sudah sangat lumrah bagi orang-orang sipil dan serdadu-serdadu Inggris untuk menikahi wanita-wanita setempat sebagai isteri-isteri simpanan atau tidak resmi mereka, praktek-praktek semacam ini mulai dikecam dan lama-lama menghilang tatkala lnggris memerintah di Punjab.
Beberapa jenderal-jenderal Eropa yang memang ada yang kawin dengan perempuan-perempuan Punjab. Sir Charles Metcalfe, seorang sipil paling terkemuka dan berbakat di lingkungan East India Company (Perusahaan India Timur) hidup dengan seorang perempuan Sikh yang dikenalnya ketika menjalankan suatu misi diplomatik dikerajaan Ranjit Singh pada tahun 809. Hubungannya yang romantis dan terang-terangan dengan wanita Punjab ini menjadi bahan gunjingan ditengah-tengah masyarakat, dan Metcalfe sendiri tidak pula merahasiakannya dan begitu juga dengan ketiga orang putranya yang Lahir dari hubungan mereka itu.
Sebelum pertengahan abad ke-18, praktis tidak ada catatan atau dokumen visual tentang tokoh-tokoh India berdasarkan observasi tangan pertama. Pelukis-petukis Inggris yang mulai berdatangan di India mulai tahun 1760 dan seterusnya hampir semuanya membuat lukisan-lukisan pemandangan potret-potret para penguasa dan pangeran-pangeran India atau peristiwa-peristiwa bersejarah yang ada kaitannya dengan kepentingan Imperium lnggris. Tetapi ada juga pelukis-pelukis, baik yang profesional maupun yang amatir, yang terinspirasi dengan orang-orang India yang eksotis, khususnya perempuan-perempuan asli India. Para pelukis ini banyak mewariskan lukisan-lukisan dan gambar-gambar wanita-wanita India asli dari berbagai lapisan masyarakat. Ada juga pelukis-pelukis India yang mendapat dukungan dari Inggris, khususnya pelukis-pelukis yang telah menguasai beberapat eknik barat dan mampu melukis dengan gaya yang sesuai dengan selera orang-orang Inggris yang memesan lukisan-lukisan mereka.
Diantara pelukis-pelukis kondang lnggris yang mengunjungi Punjab pada abad ke19 dan mewariskan koleksi berharga lukisan-lukisan dan gambar-gambar mereka adalah G.T. Vigne, A.F.P. Harcourt, H.A. Oldfield, C.S. Hadinge, dan William Carpenter. Karya-karya mereka pada umumnya menggambarkan pemandangan alam Punjab yang indah, monumen-monumen bersejarah dan sebagainya. Bahkan Emily Eden, saudara perempuan Gubernur Jenderal Auckland di kerajaan Maharaja Ranjit Singh, dan seorang pelukis yang memiliki akses ke Istana Raja, tidak pernah melukis seorang perempuan Punjab dalam karya monumentalnya berjudul Portraits of the Princes and People of India’ dimana antara lain terdapat lukisan-lukisan bagus Ranjit Singh, putra-putranya dan tokoh-tokoh Sikh lainnya. Beberapa orang pelukis tidak berhasil membuat sketsa perempuan-perempuan yang tidak memakai purdah (tutup kepala) yang tinggal di daerah-daerah perbukitan. Mereka digambarkan sebagai wanitawanita berperawakan tinggi, berkulit bersih dan tidak malu-malu seperti saudara-saudara mereka di daerah-daerah non-pegunungan. Wanita-wanita pegunungan yang lugu ini banyak bicaranya (talkative) dan juga mempunyai sense of humor. Tidak heran jika pejabat-pejabat Inggris senang mengambil 'putri-putri alam ini' sebagai mitra hidup mereka dan tinggal bersama mereka di lingkungan pegunungan. Perempuan perempuan Punjab yang bukan berasal dari daerah-daerah pegunungan umumnya memakai purdah dan tidak mau menampakkan diri kepada pelukis-pelukis pria, apakah dia India asli atau orang asing. Namun ada juga para pelukis yang berhasil melukis wanita-wanita desa karena keharusan memakai purdah tidak begitu keras di tempat mereka.
Menurut pengamatan, perempuan-perempuan Punjab senang memakai perhiasan. Berbagai jenis perhiasan buatan pandai-pandai emas terlatih mereka pakai mulai dari kepala sampai ke kaki. Emily Eden menggambarkan dalam buku hariannya betapa indah dan mengagumkannya pakaian-pakaian dan perhiasan-perhiasan yang dipakai oleh wanita-wanita bangsawan di Lahore. Dia menulis: “Kepala mereka terlihat begitu besar karena banyaknya mutiara yang mereka pakai di bagian kepala dan cincin-cincin hidung mereka begitu besar sehingga menutupi bagian bawah wajah mereka. Pertama, mereka memakai berlian berbentuk bulan sabit di hidung dan pada berlian tersebut tergantung mutiara-mutiara yang ditata dalam berbagai bentuk dan diselang seling dengan zamrud. Tubuh mereka ditutup dengan gaun panjang dan celana ketat dan kepala dengan kerudung.”
Citra romantis perempuan-perempuan Punjab tergambar jelasdalam folklore legenda-legenda percintaan Punjab seperti Heer Ranjha, Sohni Mahiwal, MirzaSahiban, Sehti Murad, Ba!o-Mayia dan sebagainya. Perempuan-perempuan Punjab terkenal akan kecantikan, keanggunan dan daya pikatnya yang luar biasa. Para penyair dan penulis menggunakan kata sifat superlatif untuk melukiskan warna kulit mereka putih bersih dan pipi kemerah-merahan.
Penulis adalah wartawan kondang.
Source : India Perspective
Comments |
|
|
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha
|


Comments























