IndoIndians.com

   

        

 

Channels

> Associations
> Astrology
> Beauty
> Business
> Career
> Education
> Entertainment
> Festival
> Food
> Health
> Holiday
> Info India
> Info Indonesia
> Kids
> Lifestyle
> Money Matters
> News
> NRIs Corner
> Parenting
> Relationship
> Religion
> Shopping
> Technology
> Teenagers
> Tips
> Sport
> Travel
> Visitor Info
> Wedding
> Writer
Movie Reviews
Members Center
Newsletter Archive

 

Services

> Weekly Newsletter
> e-Card
> Message Board
> Job Forum
> Fun Stuff
> Simplify Life
> Bollywood Preview
> Mailbox
> English Preview
> Yellow Pages
> e-Mail

 

 


Pattadakal

Dimana "Segalanya Tampak Abadi"
 

Oleh: Samir Tuli

Negara bagian Karnataka yang kaya dengan candi candi Hindu purba seperti yang terdapat di Pattadakal dan Badami merupakan saksi tentang masa silam yang gemilang. Jika kita mendekati situs-situs purbakala tersebut, kita akan menemukan suatu “Keabadian” disini. Semuanya terlihat tenang, suatu perasaan deja-vu merasuk kedalam diri kita begitu memandang sungai Malaprabha yang tenang airnya, dimana tumbuh bunga-bunga kuning ditengah-tengah reruntuhan candi-candi. Pattadakal adalah sebuah situs warisan dunia dari UNESCO, sebagaimana Hampi di lebih ke selatan lagi. Begitu kita memasuki wilayah Pattadakal yang indah pemandangannya itu satu gugusan candi-candi menyambut kedatangan kita.

Pattadakal yang oleh Ptolemy disebut Petrigal itu dulu dikenal sebagai Raktapura (kota merah) dan Pattada Kisuvolal. Pattadakal dulu digunakan oleh raja-raja Chalukya sebagai tempat upacara peringatan dari abad ke tujuh sampai ke sembilan Maschi ketika dia mencapai puncak kegemilangannya. Candi-candi utama, sekitar sepuluh buah, mencerminkan puncak arsitektur Chalukya barat di masa lampau. Raja Vikramaditya II (734-45 M) dan kedua ratunya Lokamahadcvi dan Trai lokyamahadevi sengaja membawa parung-patung dari Kanch ipuram un tuk ditiru disini. Disini anda bisa rnencrnukan percobaan-percobaan dalam bidang arsitektur. Patung-patu ng tersebut dipahat halus, kaya dengan detail dan menggunakan batu pasir yang ada warna pinknya sehingga berkilap jika diterpa sinar matahari. Candi-candi dan candi-candi kecil sekitarnya menjadi bukti kehebatan gaya arsitektur Chalukya yang merupakan perpaduan berbagai gaya dan tradisi seni. Pattadakal sungguh unik karena memiliki perpaduan antara gaya Nagara dari India utara dan gaya Dravidia dari India selatan.

Kuil-kuil India utara yang Iebuh tua usianya yang masih hidup adalah kuil-kuil yang disebut rock-cut, yakni kuil yang dibuat dengan mamahat batu-batu besar. Sebelum lahirnya Buddhisme bahan bangunan yang lebih disukai adalah kayu dan kecuali di Kerala, tradisi ini tidak bertahan, begitu juga dengan gedunggedungnya. Diantara semua candi terdapat sebuah ruangan kecil yang merupakan jantung dart semua candi karena disinilah tersimpan arca utamanya. Ruangan tersebut dihubungkan dengan sebuah aula untuk para penziarah. Ruangan tersebut dapat dimasuki melalui sebuah teras.

Eksperimentasi yang dilakukan di Aihote, Pattadakal dan Badami membuktikari terdapatnya dua gaya arsitektur berbeda untuk kuil-kuil Hindu. Satu diantaranya bcrnama sikhara, atau menara kuil, yang menjulang tioggi dan berujung runcing yang disebut ‘stupi’ yang merupakan ciri khas kuil India Utara. Gaya lain bernama vimana, yaitu menara yang lebih berbentuk seperti piramida berjenjang yang merupakan ciri khas kuil India Selatan. Di Pattadakal kita bisa melihat tahap-tahap pembangunan sebuah kuil dibawah raja-raja Chalukya. Dari sepuluh buah kuil yang terdapat disini, empat bergaya arsitektur India utara dan enam India selatan, walaupun ada yang mcngatakan merupakan perpaduan antara keduanya.

Kuil yang terbesar di Pattadakal dan paling rainai dengan ukiran adalah kuil Virupaksha. Di depannya terdapat patung Nandi setinggi 2,6
meter, yang terbuat dari batu berwarna hijau dan berhiaskan bunga-bunga berwarna merah. Kami diberitahu bahwa kuil ini masih digunakan untuk upacara sembahyang dan selama ratusan tahun kuil ini terus digunakan untuk upacara yang sama. Kuil Virupaksha memiliki patung-patung bagus dan panil-panil yang melukiskan adeganadegan dari dua epos besar Ramayana dan Mahabharata. Kuil ini dan kuil Mallikarjuna dibangun oleh ratu-ratu Vikramaditya II untuk merayakan kemenangan di nasti Chalukya atas dinasti Pallava. Kuil Virupaksha yang dibangun oleh Ratu Lokamahadevi Lokcshwara. Kuil ini kaya dengan hiasan dan pahatan-pahatan dan. dewa-dewa yang tergambar disini masing-masing bernama Lingodbhava, Natraja, Ravananugraha dan Ugranarsimha. Dibangun dengan gaya Dravida selatan, kuil adalah kuil tcrbesar di komplek ini.

Kuil-kuil lain yang perlu dicatat adalah Mallikarjuna, dibangun oleh Trailokyamahadevi, ratu lain dari Vikramaditya TI. Kuil yang aslinya bernama kuil Trailokeshwara ini mirip dcngan kuil Virupaksha tetapi lebih kecil ukurannya. Kim melihat pilar-pilar yang menggambarkan kelahiran Krishna. Pada lotengnya terdapat ukiran-ukiran Nataraja dengan Parvati.
Kuil Jambulinga adalah kuil kecil lainnya yang dihiasi dengan Syiwa yang sedang menari (Dancing Shiva) dengan Nandi dan Parvati disampingnya. Dihangun dengan gaya arsitektur utara yang dilengkapi dengan menara, di depannya terdapat pintu gerbang seperti telapak kuda. Kuil Kota Siddeswara juga dibangun dengan gaya arsitektur India utara. Bangunan ini mempunyai sebuah tempat peribadatan dan sebuah aula Disini terdapat sebuah patung Syiwa yang sedang memegang seekor ular dan sebuah tnisula dengan Parvati disampingnya.

.
Penulis adalah seorang penulis mengenai





Source : India Perspective

 site search :


Send mail to webmaster@infotech.co.id with questions or comments about this web site.
Copyright © 2005 www.indoindians.com

Last modified:
September 29, 2005