|
|
|

Pattadakal
Dimana "Segalanya Tampak Abadi"
Oleh: Samir Tuli

Negara
bagian Karnataka yang kaya dengan candi candi Hindu purba seperti yang
terdapat di Pattadakal dan Badami merupakan saksi tentang masa silam
yang gemilang. Jika kita mendekati situs-situs purbakala tersebut,
kita akan menemukan suatu “Keabadian” disini. Semuanya terlihat tenang,
suatu perasaan deja-vu merasuk kedalam diri kita begitu memandang
sungai Malaprabha yang tenang airnya, dimana tumbuh bunga-bunga kuning
ditengah-tengah reruntuhan candi-candi. Pattadakal adalah sebuah situs
warisan dunia dari UNESCO, sebagaimana Hampi di lebih ke selatan lagi.
Begitu kita memasuki wilayah Pattadakal yang indah pemandangannya itu
satu gugusan candi-candi menyambut kedatangan kita.
Pattadakal yang oleh Ptolemy disebut Petrigal itu dulu dikenal sebagai
Raktapura (kota merah) dan Pattada Kisuvolal. Pattadakal dulu
digunakan oleh raja-raja Chalukya sebagai tempat upacara peringatan
dari abad ke tujuh sampai ke sembilan Maschi ketika dia mencapai
puncak kegemilangannya. Candi-candi utama, sekitar sepuluh buah,
mencerminkan puncak arsitektur Chalukya barat di masa lampau. Raja
Vikramaditya II (734-45 M) dan kedua ratunya Lokamahadcvi dan Trai
lokyamahadevi sengaja membawa parung-patung dari Kanch ipuram un tuk
ditiru disini. Disini anda bisa rnencrnukan percobaan-percobaan dalam
bidang arsitektur. Patung-patu ng tersebut dipahat halus, kaya dengan
detail dan menggunakan batu pasir yang ada warna pinknya sehingga
berkilap jika diterpa sinar matahari. Candi-candi dan candi-candi
kecil sekitarnya menjadi bukti kehebatan gaya arsitektur Chalukya yang
merupakan perpaduan berbagai gaya dan tradisi seni. Pattadakal sungguh
unik karena memiliki perpaduan antara gaya Nagara dari India utara dan
gaya Dravidia dari India selatan.
Kuil-kuil India utara yang Iebuh tua usianya yang masih hidup adalah
kuil-kuil yang disebut rock-cut, yakni kuil yang dibuat dengan mamahat
batu-batu besar. Sebelum lahirnya Buddhisme bahan bangunan yang lebih
disukai adalah kayu dan kecuali di Kerala, tradisi ini tidak bertahan,
begitu juga dengan gedunggedungnya. Diantara semua candi terdapat
sebuah ruangan kecil yang merupakan jantung dart semua candi karena
disinilah tersimpan arca utamanya. Ruangan tersebut dihubungkan dengan
sebuah aula untuk para penziarah. Ruangan tersebut dapat dimasuki
melalui sebuah teras.
Eksperimentasi yang dilakukan di Aihote, Pattadakal dan Badami
membuktikari terdapatnya dua gaya arsitektur berbeda untuk kuil-kuil
Hindu. Satu diantaranya bcrnama sikhara, atau menara kuil, yang
menjulang tioggi dan berujung runcing yang disebut ‘stupi’ yang
merupakan ciri khas kuil India Utara. Gaya lain bernama vimana, yaitu
menara yang lebih berbentuk seperti piramida berjenjang yang merupakan
ciri khas kuil India Selatan. Di Pattadakal kita bisa melihat
tahap-tahap pembangunan sebuah kuil dibawah raja-raja Chalukya. Dari
sepuluh buah kuil yang terdapat disini, empat bergaya arsitektur India
utara dan enam India selatan, walaupun ada yang mcngatakan merupakan
perpaduan antara keduanya.
Kuil yang terbesar di Pattadakal dan paling rainai dengan ukiran
adalah kuil Virupaksha. Di depannya terdapat patung Nandi setinggi 2,6
meter, yang terbuat dari batu berwarna hijau dan berhiaskan
bunga-bunga berwarna merah. Kami diberitahu bahwa kuil ini masih
digunakan untuk upacara sembahyang dan selama ratusan tahun kuil ini
terus digunakan untuk upacara yang sama. Kuil Virupaksha memiliki
patung-patung bagus dan panil-panil yang melukiskan adeganadegan dari
dua epos besar Ramayana dan Mahabharata. Kuil ini dan kuil
Mallikarjuna dibangun oleh ratu-ratu Vikramaditya II untuk merayakan
kemenangan di nasti Chalukya atas dinasti Pallava. Kuil Virupaksha
yang dibangun oleh Ratu Lokamahadevi Lokcshwara. Kuil ini kaya dengan
hiasan dan pahatan-pahatan dan. dewa-dewa yang tergambar disini
masing-masing bernama Lingodbhava, Natraja, Ravananugraha dan
Ugranarsimha. Dibangun dengan gaya Dravida selatan, kuil adalah kuil
tcrbesar di komplek ini.
Kuil-kuil
lain yang perlu dicatat adalah Mallikarjuna, dibangun oleh
Trailokyamahadevi, ratu lain dari Vikramaditya TI. Kuil yang aslinya
bernama kuil Trailokeshwara ini mirip dcngan kuil Virupaksha tetapi
lebih kecil ukurannya. Kim melihat pilar-pilar yang menggambarkan
kelahiran Krishna. Pada lotengnya terdapat ukiran-ukiran Nataraja
dengan Parvati.
Kuil Jambulinga adalah kuil kecil lainnya yang dihiasi dengan Syiwa
yang sedang menari (Dancing Shiva) dengan Nandi dan Parvati
disampingnya. Dihangun dengan gaya arsitektur utara yang dilengkapi
dengan menara, di depannya terdapat pintu gerbang seperti telapak kuda.
Kuil Kota Siddeswara juga dibangun dengan gaya arsitektur India utara.
Bangunan ini mempunyai sebuah tempat peribadatan dan sebuah aula
Disini terdapat sebuah patung Syiwa yang sedang memegang seekor ular
dan sebuah tnisula dengan Parvati disampingnya.
.
Penulis adalah seorang penulis mengenai
Source : India Perspective
|
Send
mail to webmaster@infotech.co.id
with questions or comments about this web site.
Copyright © 2005 www.indoindians.com
Last modified:
September 29, 2005
|
|