IndoIndians.com

   

        

 

Channels

> Associations
> Astrology
> Beauty
> Business
> Career
> Education
> Entertainment
> Festival
> Food
> Health
> Holiday
> Info India
> Info Indonesia
> Kids
> Lifestyle
> Money Matters
> News
> NRIs Corner
> Parenting
> Relationship
> Religion
> Shopping
> Technology
> Teenagers
> Tips
> Sport
> Travel
> Visitor Info
> Wedding
> Writer
Movie Reviews
Members Center
Newsletter Archive

 

Services

> Weekly Newsletter
> e-Card
> Message Board
> Job Forum
> Fun Stuff
> Simplify Life
> Bollywood Preview
> Mailbox
> English Preview
> Yellow Pages
> e-Mail

 

 


Dibalik Khardungla
Lembah Nubra

Naskah & Foto Anil Maholtra


Kami meninggalkan kota Leh (11000 kaki) yang didominasi oleh Istana besar bertingkat
sembilan, yakni Istana Sengge Namgyal —raja Leh, sekitar pukul 10 pagi pada suatu pagi yang sejuk di bulan Mei. Istana tersebut adalah sebuah hasil karya yang indah dan ekswisit dari seni arsitektur Tibet, yang dipercaya telah mengilhami pembangunan istana Dalai Lama terkenal di Lhasa, Tibet - Istana Potala.

Walaupun kami menggunakan sebuah kenderaan yang kuat dan cukup terpercaya, perjalanan melalui jalan raya dan daerah sekitarnya cukup sulit. Dengan menempuh jalan yang berliku liku dan tidak rata dan beraspal disana sini, kami siap bertualang menuju Khardungla, 18,300 kaki, jalan tertinggi di dunia yang bisa dilewati kenderaan.

Dalam perjalanan, udara cukup segar dan tidak kurang oksigennya. Dan walaupun kami telah menutupi tubuh dengan berlapis-lapis pakaian wol, namun udara tetap dapat menembus sampai ke kulit. Sesekali muncul marmot-marmot kecil kecoklatan dan lucu-lucu yang agak mirip anak kucing yang terawat baik, melompot-lompat dari batu ke batu dan kadang-kadang mengejar mobil kami dalam jarak yang aman. Kami sengaja berhenti untuk membuat foto bersama mereka, tetapi usaha ini sia-sia, sebab begitu mobil kami berhenti, mereka pun menghilang ke balik batu-batu besar.

Langit diatas Leh dan sekitarnya biru seperti tinta, karena tidak adanya polusi di
sekitar daerah itu. Bahkan polusi suara pun tidak ada. Ketika kami bergerak menuju Khardungla, suasana terasa hening dan sepi. Pada suatu pagi di bulan Mei ketika daerah-daerah dibawahnya diterpa udara panas dan pada ketinggian 11.000 kaki, bahkan Leh pun ikut didera udara panas, Khardungla Top, yang tertutup salju, seolah-olah seperti Mount Everest di musim dingin. Kami mencoba memanaskan badan dengan minum semangkok kopi panas yang diberikan oleh beberapa orang tentara yang sedang berjaga-jaga di Top, sehingga jalan tersebut tetap terbuka dengan aman sepanjang tahun. Sambil istirahat kami melepaskan pandangan ke sekeliling dan pemandangannya benar-benar menakjubkan. Ditengah-tengah pemandangan yang tertutup salju tersebut, kami melihat ratusan umbul umbul dalam multiwarna berkibas-kibas ditiup angin seolah-olah sedang berdoa demi kedamaian dan ketenangan para pelancong dan sepasukan tentara yang ditugaskan di Khardungla.

Sambil memandang ke arah selatan, ke Lembah Indus yang terkenal itu, yang mungkin masih menyembunyikan rahasia dibalik perabadan sekarang ini, kami melihat barisan gunung-gunung yang tertutup salju yang termasuk kedalam Barisan Pegunungan Zanskar. Di sebelah utara terlihat Sasser Massif, yang termasuk kedalam Pegunungan Karakoram.

Teman tentaraku dari Leh yang sudah terbiasa melintasi daerah-daerah pergunungan, Phuntsog Wangdus, yang nenek moyangnya berasal dari Lembah Nubra sebelum pindah ke kota Leh yang lebih mudah dijangkau, juga menjadi pemandu kami selama perjalanan ini. Pengetahuannya tentangn lembah ini cukup luas sehingga kami bisa mengenal daerah lebih dekat. Lembah Nubra (berarti taman) yang terletak antara Khardungla dan Glatsier Siachin, memperoleh namanya dari Sungai Nubra - anak Sungai Shyok, yang berhulu dari hamparan es mencair sepanjang 78 km - Glatsier Siachin Kedua sungai tersebut berhulu dari Sasser Massif masing-masing di timur dan di barat, lalu menyatu menjadi Sungai Shyok dan dalam perjalanannya sungai ini berkembang menjadi sungai Indus yang sangat besar di Baltistan. Sungai-sungai tersebut dalam perjalanan mereka selanjutnya memecah menjadi kali-kali yang mengalir ke lembah-lembah. Ketika salju mulai mencair sungai-sungai tersebut berubah menjadi jeram-jeram dengan intensitas yang berbeda di beberapa tempat sehingga bisa dijadikan ajang untuk olah raga arung jeram oleh para petualang dan pencinta alam.

Sementara mcnyelusuri endapan-endapan es, kami menyaksikan pemandangan yang menakjubkan seperti di Disneyland karena adanya tonjolan-tonjolan es yang tidak mencair, tumbuh atau bergantung seperti stalaktik dan stalagmit disepanjang jalan yang kami lewati. Kendaraan kami terpaksa jalan hati-hati menghindari gumpalan-gumpalan es itu.

Alam memperlihatkan keindahannya yang lain lagi setelah kami melewati Kargil dan sepanjang rute Kargil-Leh-Lembah Nubra. Tanpa ditumbuhi vegetasi daerah-daerah yang terletak di puncak-puncak pegunungan ini terasa kering dan gersang. Alam disini menampakkan warna-warna seperti abu-abu, coklat atau jingga, dan disamping itu tampakj uga warna-warna magenta, kuning dan biru. Di beberapa tempat Lembah Nubra di tutupi oleh semak-semak berduri, pohon-pohon Willow dan Poplar. Disana sini kami menyaksikan pula bunga-bunga mawar yang tumbuh liar dengan warna magenta, crimson, kuning dan merah, yang memberikan gambaran seperti sebuah karya sulam bermotif bunga yang tergantung di alam raya. Keberadaan vegetasi ditambah lagi dengan letak Lembah Nubra yang lebih rendah dibanding Leh, membuat udara di tempat ini mengandung oksigen yang cukup sehingga kami bisa bernapas dengan lega.

Patung-patung Buddh yang diukir diatas batu-batu dekat Istana Shey


Kami meneruskan perjalanan pada ketinggian 11.000 kaki secara pukul rata. Setelah melewati daerah padang yang luas jalan yang kami Jalui bercabang dua, yang ke kiri berpapasan dengan Sungai Shyok menuju ke kota Disket yang banyak biara-biaranya. Yangke kanan, yangkami pilih, berpapasan dengan sungai Nubra, menuju ke Panamic, desa terakhir yang dihuni manusia dan dari sini kita bisa terus ke Glatsier Siachin.

Setelah melewati Panamic, jalan menuju Glatsier Siachin berliku-liku. Tetapi turis hanya diizinkan melancong sampai Panamic. Kami memutuskan untuk mengunjungi Panamic sebelum kembali ke Deskit untuk bermalam. Perjalanan sepanjang Sungai Nubra sangat menyenangkan, suatu hal yang sulit dipercaya. Desa-desa Tint, Lukung, Tegar dan Sumeru yang tenang dan sepi cepat kami lewati. Setiap desa merupakan kebun-kebun aprikot yang dikelilingi oleh pohon-pohon poplar dan willow, beda sekali dengan padangpasir pegunungan yang gersang dan berabu.

Wangdus memberi tahu kami bahwa belum lama berselang desa-desa ini rnerupakan rute perdagangan ke Asia Tengah, sehingga ramai dan sibuk dengan kegiatan-kegiatan para kafilah yang membawa rempah-rempah dan garam. Mereka senang singgah disini untuk mengumpulkan tenaga sebelum meneruskan perjalanan selama dua pekan melewati padang pasir Karakoram dan pegunugan Kunlun. Suatu perjalanan dimana orang tidak akan menemukan sesuatu yang bisa disantap atau diminum di tengah perjalanan. Bahkan untuk makanan ternak yang menarik kereta-kereta kafilah itu juga tidak ada. Dengan demikian Panamic, sebagai desa terbesar di daerah itu, menjadi sangat penting artinya bagi perdagangan.

Dalam perjalanan sepanjang jalan itu kami menemukan beberapa mata air panas berbelerang, yang bersumber dari pegunungan, yang membuat tanah sekitarnya berwarna kuning oker. Karena mata air panas tersebut diyakini mengandung khasiat penyembuhan, rakyat sekitarnya membangun saluran-saluran dan kolam-kolam kecil untuk mandi. Dalam proses selanjutnya tempat-tempat tersebut juga bermanfaat untuk para turis.

Keesokan harinya kami sampai di Deskit. Biara Deskit yang sudah berusia ratusan tahun, terlihat seolah-olah bertengger diatas puncak sebuah gunung berbentuk kerucut. Dari sini kita bisa menikmati pemandangan yang indah ke bawah, ke chorten-chorten yang tersebar di desa Deskit.

Lembah ini takjemu-jemunya menyuguhkan kejutan-kejutan kepada kami. Tatkala kami melaju menuju Hundar(1 1.000 kaki) kami melihat bukit-bukit pasir besar dengan pola-pola arah angin jelas tergores diatas pasirnya yang dingin, berwarna kelabu. Bukit-bukit pasir setinggi 60-80 kaki tersebut sama berbahanya dengan bukit-bukit pasir di daerah Jaisalmer (Rajasthan) yang lebih mudah ditempuh. Tetapi disini tersedia unta berpunuk ganda, unta Bactria— asli Mongolia— yang dengan mudahnya bisa melaju di padang pasir tersebut. Unta-unta ini adalah peninggatan dari zaman silam ketika mereka digunakan oleh para pedagang yang melewati rute dagang Asia Tengah.
Pada sore harinya, kami meneruskan perjalanan dengan mengikuti matahari yang sedang menuju peraduannya, sehingga dia tampak seperti sebuah bola besar berwana kemerahan. Langit biru dan awan-awan pun ikut berubah warna menjadi crimson. Dan tanpa disadari bayang-hayang pun semakin memanjang begitu sore beranjak malam untuk memberi kesempatan kepada manusia dan makhluk bernyawa lainnya yang mendiami daerah ini untuk beristirahat dan melepaskan penat dari keganasan siang harinya.


Penulis adalah seorang penulis terkemuka tentang perjalanan.

Source : India Perspective

 site search :


Send mail to webmaster@infotech.co.id with questions or comments about this web site.
Copyright © 2005 www.indoindians.com

Last modified:
September 29, 2005