Dari semua bentuk seni di India, seni mendesain tekstil adalah yang
paling tua umurnya. Penemuan fragmen-fragmen kain-kain katun yang
sangat bagus tenunannya dan dicelup dengan bahan-bahan alami dan
kumparan-kumparan benang di Mohenjodaro menunjukkan bahwa industri
tekstil di India telah berusia 4000 tahun lebih, jauh sebelum bangsa
Arya masuk ke negeri ini.
Produk-produk tenunan purba India saking indahnya dilukiskan sebagai
sebuah hasil 'karya yang puitis dalam bentuk kain-kain berwarna’ dan
boleh dikatakan tidak ada suatu rahasia bertenun pun yang tidak
dikuasai oleh para penenunnya.
Pada zaman Mahabharata dan Ramayana, seni menenun dan mendesain
tekstil telah mencapai tingkat kesempurnaan yang tinggi. Dalam
lukisan-lukisan dinding dari zaman purba, yang ditemukan pada gua-gua
Ajanta dan Bagh, terdapat tanda-tanda tentang berbagai desain kain
tenun seperti desain bandhani, tentang pakan dan lungsin, ikat dan
celup.
Jika kita mengkaji sejarah pendesainan tekstil, kita akan menemukan
bahwa pekerjaan pendesainan merupakan sebuah bidang pekerjaan khusus
yang diidamkan oleh banyak penenun dan pelukis untuk menghasilkan
karya-karya besar sesuai zamannya, untuk dipakai sendiri atau untuk
dijual ke pasar, untuk konsumsi dalam atau luar negeri.

Sebuah dasi & produk celup dari Gujarat
Di India terdapat sekolah-sekolah
pendesainan tekstil, ada yang kuat pengaruh Hindunya seperti yang
ditemukan di India selatan atau yang kuat pengaruh Mughalnya, dan
kadang-kadang merupakan kombinasi keduanya. Sebagian besar
desain-desain yang dihasilkan adalah menurut selera dan kebutuhan
masyarakat dan kadang-kadang dibuat atas pesanan seperti untuk
keluarga raja-raja.
 |
Pada ahad ke-17,
sekolah-sekolah kelompok Corornandal tumbuh subur di Petaboli.
Karena Petaboli terletak di daerah Golconda yang diperintah
kalangan Islam, corak dan gaya desainnya mencerminkan gaya Persia
dari pihak penguasa yang menjadi patron-patron utama industri
tekstil.
|
| Sari ikat dari benang Lungsin Sutera dari
Bangalore, medio abad ke-19 |
Sekolah-sekolah lain bisa ditemukan di daerah Pulicat dan Kalahasçi.
Karena kedua daerah ini berada dibawah kekuasaan Hindu, mereka
mewarisi tradisi seni Vijayanagar. Kain-kain yang dihasilkan kedua
tempat ini bercorak Kalamkari. Secara estetika, kedua sekolah
terdahulu yang ada di Coromandel banyak mempunyai persamaan. Di kedua
sekolah ini, para penenunnya adalah orang-orang Hindu berkasta, yang
bekerja atas dasar joint family atau keluarga bersama. Karena selera
dan feshen yang digemari orang-orang_menunjang_industri tekstil ini,
yang berkebangsaan Persia, IndoPersia dan Eropa, tidak sesuai dengan
gaya lokal mereka sendiri, mereka menjadi bergantung kepada para
pengrajin yang disewa oleh para pedagang. Desain-desainnya biasanya
terdiri dari figur-figur yang ada hubungannya dengan si pengrajinnya
sendiri, yang merupakan ciri khas keindividuannya.
Pada zaman Mughal, penggunaan teknik melukis kain katun adalah untuk
tent hangings atau mendekor sketsel-sketsel guna menciptakan privacy
kepada penghuninya.
Pada abad ke-17 dan 18, India telah menghasilkan berbagai jenis
tekstil untuk pasar luar negeri. Pola dan desainnya yang khas India,
yang dikembangkan para pengrajin India untuk memenuhi kebutuhan dalam
negeri dan untuk acara-acara sosial, ternyata sangat asing bagi orang
rnengembangkan perdagangan yang menguntungkan, para saudagar yang
terlibat dalam Perdagangan India Timur merasa perlu untuk mengirimkan
contoh-contoh yang sesuai dengan selera masyarakat India untuk ditiru
atau diadopsi oleh para pengrajin India.
Pada abad ke-19, para penenun chintz (sejenis kain katun) yang dulunya
bekerja untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri yang belum mereka
kenal kini harus memenuhi kebutuhan keluarga-keluarga Eropa yang
tinggal di lingkungan mereka. Motif-motif tradisional yang disebut
buti atau motif tereli atau kisi-kisi dimodifikasi untuk memenuhi
selera kontemporer. Motif buti berbentuk bunga yang pada zaman Mughal
mengambil bentuk tanaman berbunga dengan kuncup yang melilit di
puncaknya menjadi menjadi motif bunga secara konvensional.
Umumnya kain-kain katun dan kain
muslin yang bagus pada abad ke-18 dibuat untuk kostum istana di
Rajasthan. Pada upacara-upacara keagamaan dan pesta-pesta yang
sifatnya sekuler, setiap orang diwajibkan memakai kostum baru. Untuk
kesempatan serupa ini, kain-kain katun print, kain-kain muslin yang
dicelup indah atau muslin ikat celup dan pita-pita bordiran yang
berjumbai-jumbai dipakai hampir setiap orang termasuk yang miskin.
Suatu ciri khas kostum Rajasthan adalah turban atau sorban. Apakah
untuk dipakai sehari-hari atau untuk pesta, sorban selalu kaya dengan
warna.
|
Di Gujarat,
produk tekstil paling canggih pada zaman dulu adalah kain-kain
bordiran dan tenunan. Mungkin membuat kain katun tulis clan kain
katun print mungkin tumbuh belakangan dari pembuatan kain-kain
mewah tadi, dan kebetulan di Gujarat tekniknya belum begitu
berkembang seperti di daerah-daerah India selatan dan Deccan.
|
 |
| |
Sari-sari sutera yang dicetak |
Kain-kain sari sutera bandhani
ikatcelup dan odhanies (penutup kepala wanita) dari Jamnagar di
Kathiawar dan Bhuj di Kutch menempati suatu tempat khusus dalam
pakaian tradisonal Gujarat, karena banyak dari desain-desainnya
sengaja diciptakan untuk trousseau anak perempuan.
Penulis adalah seorang penulis freelance
Source : India Perspective