Tersihir Keajaiban Mysore, India

Tersihir Keajaiban Mysore, India

mysore-palace

Mysore adalah tempat di mana para pengagum seni dan kebudayaan berduyun-duyun mengeksplorasi masa lalu yang penuh estetik dan kaya yang kini diabadikan dalam berbagai wujud – yang terjalin kompleks di kain sutra Mysore yang terkemuka, disisir dengan cermat di dinding sejumlah istana dan diukir dengan sempurna di situs-situs keagamaan.

Menjadi kota yang memelihara tradisi budaya dan sejarah monarki khusus pelajar dan turis yang memiliki minat yang sungguh-sungguh, kota yang berada negara bagian Karnataka di India Selatan ini mudah kalian akses lewat jalur darat mulai dari Bangalore, ibukota negara bagian. Banyak maskapai penerbangan internasional terbang ke Bangalore setiap harinya.

Mysore memperoleh asal namanya dari Mahishasura, raja iblis yang pernah berkuasa di tempat tersebut menurut mitologi. Dewi Chamundeshwari membunuh Mahishasura dalam sebuah pertarungan sengit dan memberikan kebebasan kepada rakyat yang menderita. Kuil Dewi dibangun di atas Bukit Chamundi dan bisa dilihat dari beberapa bagian kota. Tepat di jejak kaki bukit berdiri patung Mahishasura. Patung besar Nandi, hewan banteng kendaraan Dewa Siwa juga terletak di atas bukit.

Pesona utama Mysore adalah istana dan arsitekturnya yang membuatnya berjuluk ‘kota seluruh istana’. Aspek arsitektur kreatif bisa kalian lihat melalui Istana Mysore atau Istana Ambavilas yang kini dikelola oleh pemerintah. Sebagian terinspirasi oleh gaya arsitektur Indo-Saracenic, yang merupakan perpaduan gaya Indo-Islam dan Eropa (Jerman). Interiornya adalah simbol sejati gaya konstruksi Hoysala (selama pemerintahan kerajaan Hoysala).

Istana Mysore biasanya bersinar di malam akhir pekan dan banyak penduduk setempat serta wisatawan berkumpul menyaksikan pemandangan berbintang tersebut. Istana-istana terkemuka lainnya di kota ini adalah istana Jaganmohana (sebuah galeri seni), Lalitha Mahal (diubah menjadi hotel bintang lima), Jayalakshmi Vilas dan Rajendra Vilas. Agak jauh dari kota, terdapat kota bersejarah Srirangapattnam yang memiliki istana musim panas Tipu Sultan, seorang penguasa Muslim pemberani yang tewas dalam pertempuran dengan tentara Inggris.

Pengaruh dunia Barat terhadap arsitekturnya begitu tampak di gereja St. Philomena, gereja yang disebut sebagai gereja tertinggi di India. Dibangun pada tahun 1936 untuk memberi penghormatan kepada Saint Philomena, putri muda asal Yunani yang menjadi martir pada abad ke-4 Masehi.

Bagaimana bisa sebuah tempat tidak memiliki festival jika istana, sejarah seni, arsitektur yang kaya memenuhi kotanya? Musim Dasara Mysore sangatlah populer. Kalian dapat menyaksikan kompetisi utuh gulat tradisional selama musim tersebut. Mysore memanfaatkan pemandangan aneka warna di musim penuh sukacita yang dirayakan selama sepuluh hari.

Di hari kesepuluh yang disebut Vijayadashami, nikmati pemandangan prosesi Dasara tradisional di pinggir kota Mysore yang menempatkan potret Dewi Chamundeshwari di ceruk emas di belakang gajah bertatahkan hiasan. Acara tersebut juga diikuti berbagai kontes seperti kontes taplak meja bertema yang dipilih dari sajak kepahlawanan terkenal India.

Jika berbelanja adalah tujuan utamamu, jangan khawatir. Mysore menawarkan barang eksotis  yang melimpah di pinggir lokasi wisata. Kerajian woven sutra Mysore (pakaian tradisional India) akan langsung menarik perhatian begitu kalian memasuki pusat perbelanjaan yang jumlahnya tak terkira. Produk kayu cendana yang mayoritas mahal menjadi daya tarik utamanya.

Bila menginginkan cendera mata, kalian bisa berburu parfum cendana, sabun dan kosmetik yang bisa dibeli sekitar satu sampai dua dolar. Lukisan dan karya seni  ternama juga ikut ditawarkan. Gaya lukisan Mysore menyisipkan petunjuk dari sekolah lukisan Vijayanagar (Dinasti Mysore). Raja Raja Wodeyar mempromosikan gaya lukisan ini di masa pemerintahannya. Serpihan emas yang disisipkan di dalamnya menjadi fitur unik dari lukisan ini.

Curah hujan terjadi di bulan Juni sampai Agustus di Mysore. Periode yang memilki batas tersebut menghasilkan cuaca yang menyenangkan serta mempertahankan udara dan angin yang menyehatkan.

Teks dan gambar oleh Pramod K

(Seorang guru sekolah internasional di Jakarta. Menjalani tugas selama 5 tahun di Teluk Persia, dan tinggal di Indonesia sejak tahun 2005. Berprofesi sebagai penulis dan fotografer dan telah berkontribusi pada surat kabar dan majalah. Kunjungi situs web www.penningprem.webs.com dan kontak email [email protected])

 

Subscribe to Newsletter

NO COMMENTS

Leave a Reply

*

*

*

five × 3 =

*